Selasa 29 September 2020 - 6:12:57 pm

Simposium "Abrahamic Family" Mengulas Perdamaian dan Koeksistensi antar Agama dalam Melayani Umat Manusia


Madrid, 16 September (WAM) - Yayasan Kebudayaan Islam dan Toleransi Beragama di Spanyol kemarin mengadakan simposium budaya virtual bertajuk "Keluarga Ibrahim ... Damai dan Kesinambungan di mana tokoh-tokoh terkemuka dalam karya ilmiahnya membahas tema-tema yang kaya tentang perdamaian dan hidup berdampingan antar agama untuk pengabdian seluruh umat manusia. Seminar ini dimoderatori oleh Dr. Alfred Guterres Kavanagh, Kepala Yayasan Kebudayaan Islam dan Toleransi Beragama.

Dr. Muhammad Matar Al-Ka’abi, Ketua Lembaga Umum Urusan dan Wakaf Islam di Uni Emirat Arab, menegaskan dalam makalah ilmiahnya yang berjudul "Perjanjian Emirat-Israel dalam Perspektif Perjanjian Nabi" bahwa perjanjian Emirat-Israel adalah keputusan strategis yang berani dan bijaksana berdasarkan nilai-nilai luhur agama Islam kita yang sejati. Mewujudkan perdamaian dan menyebarkan keharmonisan dari zaman kenabian hingga saat ini, mengutip perjanjian damai yang dibuat oleh Nabi Muhammad (SAW) dengan orang-orang Yahudi dan lainnya, seperti piagam Madinah, perjanjian damai Hudaybiyah dengan Quraisy, perjanjian dengan umat Kristen Najran, dan keuntungan yang dihasilkan dari semua perjanjian sebelumnya yang baik untuk semua.

Al-Ka’abi menjelaskan bahwa para ulama menetapkan dalam suatu perjanjian, dua syarat dasar dalam perjanjian, rekonsiliasi dan kesepakatan, yang pertama bahwa itu adalah hak prerogatif penguasa, bukan selainnya, dan yang kedua memperhatikan kepentingan dalam perjanjian yang akan dilakukan.

Dr. Muhammad Matar Al-Ka’abi menyampaikan upaya terus-menerus UEA dalam mewujudkan perdamaian yang adil dan komprehensif, yang memperkuat posisinya secara global, menekankan bahwa negara itu, sejak didirikan oleh Yang Mulia Syeikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, semoga Allah merahmatinya, telah mengenal inisiatif perdamaian di kawasan dan dunia, menyeru semua orang menjadi duta perdamaian dengan ikut serta menyebarkan cinta dan kerja sama antar semua.

Profesor Muhammad Ajana al-Wafi, Sekretaris Jenderal Komisi Islam di Spanyol mempresentasikan makalah ilmiah yang berfokus pada "perjanjian damai dan perannya dalam mencapai koeksistensi dan komunikasi peradaban", di mana dia merujuk pada pengalaman pluralisme agama dan budaya di masyarakat Spanyol, menghimbau agar memahami Islam dengan pemahaman yang benar, agar tercipta hidup berdampingan secara damai dengan orang lain, dan ini adalah hak semua orang. Dan para pemikir harus memperjelas konsep ini dan mengungkapkannya.

Adapun Dr. Javier Vernadis Fabina, Profesor di Universitas Complutense di Madrid dan Direktur Kajian Oriental dan Ibrani di universitas yang sama, ia berbicara dalam makalahnya yang berjudul "Hubungan antara Agama-agama Ibrahim dan Investasi mereka ...Agama Yahudi adalah contoh," tentang akar sejarah dan ikatan antar agama, yang menekankan pentingnya memperkuat budaya toleransi beragama, beliau menjelaskan bahwa Sayyidina Ibrahim AS, menyatukan tiga agama Ibrahim dengan premis yang sama.

Dr. Javier Fernandez Fabina memuji pengalaman UEA dalam mewujudkan toleransi beragama dalam perjanjian bersejarah yang ditandatangani dengan Israel, dengan mengatakan, "Kita membutuhkan budaya toleransi, pengertian, memahami orang lain, dan menghormati hak asasi manusia ... Kita perlu memaknai arti kekerasan dan kerja sama di dalam dan di luar agama dan masyarakat."

Dalam makalah ilmiahnya "Pentingnya komunikasi dan kerja sama antar agama serta peran agama Kristen dalam memperkuatnya," Dr. Carmen Lopez Alonso, profesor emeritus di Complutense University dan peneliti di Institute of Interfaith Sciences, mengatakan bahwa agama kini telah muncul sebagai sumber konflik dan sarana yang dieksploitasi oleh kelompok ekstremis, yang mengakibatkan kebencian terhadap Agama, sebagaimana statistik menegaskan adanya penurunan praktik beragama di Spanyol, terutama di kalangan kelompok pemuda, menunjukkan bahwa agama merupakan elemen yang efektif dalam masyarakat dan kita harus memahami kerangka hukum / konstitusi / agama, menyerukan komunikasi untuk ker jasama antar agama, asalkan satu-satunya syarat untuk komunikasi ini adalah Toleransi beragama.

Dr.Carmen Lopez Alonso memuji inisiatif berani yang dilakukan oleh UEA untuk menyebarkan perdamaian, seperti mendirikan Pusat Kebudayaan Islam dan Toleransi Beragama di Spanyol dan menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia dan inisiatif lainnya untuk perdamaian, hidup berdampingan, dan toleransi, menekankan bahwa kita harus membangun jembatan dan bergerak dari kata ke tindakan melalui pendidikan dan pendidikan toleran.

Simposium budaya "Keluarga Abrahamik ... Damai dan Berlanjut" diakhiri dengan pidato penutup oleh Bpk. Jum’ah Al-Ka’abi, Direktur Jenderal Yayasan Kebudayaan Islam dan Toleransi Beragama, di mana ia menyatakan bahwa mencapai perdamaian membutuhkan upaya besar, inisiatif besar, keberanian, kebijaksanaan, dan kerja sama yang konstruktif antara negara dan rakyat, karena pilihan perang dan pertempuran akan menyisakan darah, kebencian permanen dan banyak perselisihan, dan inilah yang disaksikan sejarah.

Bapak Jum’ah Al-Ka’abi menambahkan bahwa mencapai perdamaian adalah tujuan agama dan akhlak mulia, dan jalan tertinggi adalah kesepakatan dan kebebasan beragama, termasuk kesepakatan damai, yang membutuhkan kasih sayang, cinta, hidup berdampingan secara damai dan menerima satu sama lain, menekankan bahwa kebutuhan akan masa depan yang beradab hanya didasarkan pada perdamaian, cinta, nilai-nilai luhur dan toleransi untuk menuju kemakmuran.

Penerjemah: Didek Yustika http://wam.ae/ar/details/1395302870210

WAM/Indonesian