Selasa 24 Nopember 2020 - 10:57:51 am

"Majelis Hukama Al-Muslimin" Menolak Penggunaan Istilah Kebebasan Berekspresi untuk Menghina Nabi Pengasih dan Mengecam Kejadian di Paris

  • " مجلس حكماء المسلمين " يرفض استخدام لافتة حرية التعبير للإساءة لنبي الرحمة و يجدد إدانته لحادثي باريس
  • " مجلس حكماء المسلمين " يرفض استخدام لافتة حرية التعبير للإساءة لنبي الرحمة و يجدد إدانته لحادثي باريس

ABU DHABI, 26 Oktober (WAM) - Yang Mulia Imam Besar, Prof. Dr. Ahmad Al-Thayyib, Syeikh Al-Azhar Al-Sharif, hari ini memimpin rapat Majelis Hukama Al-Muslimin melalui konferensi video.

Dalam pertemuan tersebut, Majelis mengutuk kampanye sistematis yang berusaha untuk menghina Nabi Islam dan mengejek kesucian Islam di bawah slogan "kebebasan berekspresi" dan memutuskan untuk membentuk komite ahli hukum internasional untuk mengajukan gugatan terhadap "Charlie Hebdo" karena menghina Nabi Pengasih dan menegaskan kecaman kerasnya atas pembunuhan guru Prancis, serta serangan penikaman dan percobaan pembunuhan dua wanita Muslim di dekat Menara Eiffel, dan menekankan bahwa semua insiden ini adalah terorisme yang keji, siapa pun yang melakukannya dan apa pun motifnya.

Majelis Hukama Al-Muslimin menyatakan penolakan kerasnya terhadap penggunaan istilah kebebasan berekspresi untuk menghina Nabi Islam Saw - dan kesucian agama Islam, menekankan bahwa kebebasan berekspresi harus datang dalam kerangka tanggung jawab sosial yang menjaga hak-hak orang lain dan tidak mengizinkan perdagangan agama di kontes politik dan kampanye pemilu.

Majelis kembali menyeru warga muslim di Barat untuk mematuhi nilai-nilai koeksistensi, perdamaian dan kewarganegaraan dengan semua komponen sosial di negara mereka, dan integrasi positif dalam masyarakat tersebut, meningkatkan kontribusi mereka pada konstruksi dan pembangunan sambil mempertahankan konstanta dan kekhasan agama dan budaya mereka, dan tidak terpengaruh oleh provokasi pemikiran sayap kanan yang bertujuan untuk mendistorsi Islam dan menanamkan pemahaman yang sama dengan terorisme dan isolasionisme, serta menimbulkan permusuhan terhadap Muslim.

Majelis menegaskan bahwa menghadapi pelanggaran ini akan melalui pengadilan dan melalui jalur hukum, karena Majelis percaya pada pentingnya melawan ujaran kebencian dan hasutan melalui cara damai, rasional dan legal. Dia menyatakan bahwa waktu untuk berkata-kata telah berlalu dan waktunya telah tiba untuk bertindak di lapangan.

Majelis meminta umat Islam untuk menghadapi ujaran kebencian dengan memberlakukan undang-undang internasional yang mengkriminalisasi penghinaan terhadap agama dan simbol-simbolnya, menyerukan kepada cendikiawan di Barat dan intelektual mereka untuk menghentikan kampanye sistematis melawan Islam dan memusuhinya serta menempatkannya di ranah konflik pemilihan dan politik, dan untuk menciptakan lingkungan yang sehat untuk hidup berdampingan dan persaudaraan manusia.

Penerjemah: Didek Yustika http://wam.ae/ar/details/1395302880765

WAM/Indonesian